Membaca Cepat

Membaca cepat
Aspek : membaca
Indikator :
1. Membaca cepat teks dengan kecepatan 250 kata/menit
2. Menemukan ide pokok tiap paragraf
3. Membuat ringkasan isi teks dalam beberapa kalimat yang runtut
Materi :
Membaca cepat adalah tehnik membaca dengan tujuan untuk menemukan dan mendapatkan ide pokok bacaan, serta memahami isi bacaan secara cepat. Tehnik ini dilakukan tanpa membaca secara keseluruhan bacaan tetapi hanya sekilas.
Mengukukur kecepatan membaca :
1. Bacalah teks berikut dengan teknik membaca cepat!
2. Siapkan jam tangan atau stopwatch!
3. Catatlah waktu mulai membaca dan selesai membaca!
4. Hitunglah kecepatan membaca Anda dengan rumus berikut!
Kecepatan membaca :
jumlah kata yang dibaca x 60 = jumlah kata per menit (kpm)
Jumlah detik untuk membaca

Ide pokok /gagasan utama adalah ide yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. letak ide pokok/gagasan utama bisa diawal paragraf (deduktif ), diakhir paragraf (induktif),atau diawal dan diakhir paragraf (deduktif –induktif ).
Meringkas pada intinya memperpendek teks aslinya, intisarinya saja.
Perhatikan teks berikut!
Celana dan Rok dengan Sabuk di Pantat
Oleh : M. Ali
Para pelajar menggunakan calana dan rok dengan ikat pinggang di pantat sering kita jumpai di sekolah-sekolah. Hal semacam ini perlu dicermati sehingga tidak menunjukan ketidaksopanan dalam berpakaian. Berpakaian semacam ini menunjukan bahwa kepribadian pemakainya mempunyai mental yang tidak stabil dan kurang percaya diri. Gejala semacam ini tidak boleh dibiarkan karena akan mengakibatkan lunturnya kepribadian yang mantap, percaya diri dan sikap mandiri. Disamping itu ada gejala ada memperketat pakaian dengan mengecilkan potongan rok, baju bagi para wanita. Gejala semacam ini juga memperlihatkan kekurang sopanan dalam hal berpakaian. Kepribadian orang ini ingin menarik perhatian denga cara-cara yang kurang sopan. Berusaha menonjolkan sesuatu yang tidak perlu ditomjolkan seperti itu. Hal ini menunjukan kepribadian yang kurang sopan di mata masyarakat.
Gejala-gejala semacam hal tersebut di atas tidak perlu terjadi kalau kepribadian anak tersebut bertatakrama, berbudaya, dan beretika. Selain itu lembaga pendidikan harus mengatur hal tersebut dalam tata tertib sekolah. Kalau tata tertibnya sudah ada, tinggal mempertegas pelaksanaan tata tertib tersebut oleh kepala sekolah, staf pimpinan para guru, pembina OSIS, dan para pengurus OSIS.
Semua yang terkait di lembaga pendidikan (sekolah) peduli terhadap penomena yang muncul tersebut,. Semua hendaknya membudayakan penggunaan pakaian yang sopan di sekolah. Oleh karena itu, sekolah adalah lembaga yang berfungsi mendidik para generasi muda menjadi generasi yang santun, bersusila dan bertatakrama.
Di samping itu juga para siswa hendaknya mempunyai pikiran yang positif dengan tampil berpakaian yang sopan. Sehingga orang lain memandang pribadi diri kita positif, dan tidak dipandang negatif. Dalam hal ini kita perlu menunjukan penampilan (performaance) yang membuat kita ini menjadi borang yang berharga di hati masyarakat. Berpakaian adalah cermin hati / perasaan pemakaiannya. Sebagai seorang pelajar yang demikian akan membuat “image” yang kurang baik. Para pelajar jangan melacurkan diri dengan cara-cara berpakain yang kurang sopan dihadapan publik.
Mitos yang salah jangan dipertahankan. Berpakaian seperti itu membuat percaya diri tinggi, membuat menjadi perhatian, orang lain memandang kita bagus. Mitos senacam itu salah, bahkan akan membuat Anda dipandang rendah oleh yang melihatnya. Anda akan dianggap murahan. Terkait dengan itu para pelajar hendaknya mempunyai budaya yang meyakinkan untuk mengikis mitos tersebut. Para pelajar (generasi muda) hendaknya meningkatkan budaya malu. Malu berpakain yang tidak sopan, malu berbuat yang kurang baik, malu berkata-kata yang tidak etis, malu memperlihatkan/menonjolkan sesuatu yang tidak perlu di hadapan publik.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah para pengemban pendidikan harus benar-benar memberi contoh yang benar dan baik dalam berpakaian. Seorang guru harus tampil sesuai dengan profesinya sebagai pengajar dan pendidik. Guru hendaknya memberi contoh atau teladan dalam segala hal, seperti berpakaian,berbicara, dan bertigkah laku. Kalau guru sudah tampil sedemikian rupa saya yakin siswa (pelajar) akan menikutinya. Oleh karena itu, ada ungkapan “ Guru kencing berdiri, anak kencing berdiri.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: